December 18th, 2009

Danan Wisnu Pratama: Tak Harus Lahir dalam Keluarga Dalang


Ketika bocah lain mungkin merengek minta perangkat Play Station, Danan Wisnu Pratama justru memilih mendalang. Tentu bukan sebuah pilihan yang biasa, jika dilihat lebih jauh, di keluarganya dia tidaklah dibesarkan dalam budaya Jawa yang kental. Ayahnya, Deny Sucipto, sempat heran dengan ketertarikan anaknya pada dunia pedalangan. “Bagi saya awalnya ini adalah hal mengejutkan, karena bahkan keluarga kami tidak berkomunikasi dengan bahasa Jawa”, tandasnya.

Semua bermula dari rumah kakek di Semarang, orang tua dari ibunya, Nessy Mexalita, lima tahun lalu. Danan berjumpa Rama-Sinta, figur wayang kulit yang menghiasi dinding rumah sang kakek di Semarang. Meski waktu itu belum tahu persis, siapa tokoh yang dijumpainya, Danan merayu kakeknya untuk dibolehkan membawa dua tokoh wayang itu ke Jakarta. Perjumpaan ini kemudian berlanjut dengan kehadiran komik wayang RA Kosasih, tempat dia mulai ikut berpetualang dalam cerita wayang.

Minat siswa SD Tebet Timur 19 Pagi ini disambut dengan dukungan besar dari kedua orang tuanya. Dikirimnya Danan untuk ikut belajar lebih jauh tentang wayang dan karawitan di sanggar Saeko Budaya. Di sana Danan menggembleng diri melatih keterampilan memainkan wayang, berlatih karawitan, belajar mendalang secara lebih luas dalam asuhan beberapa orang berpengalaman dalam dunia pedalangan, semisal Asman Budiprayitno, Ki Purwo Winarto dan H. Margono.

Danan tak menutupi kegembiraannya atas kesempatan untuk tampil dalam Festival Dalang Bocah Desember 2009, sebagai salah satu wakil dari DKI Jakarta. Dalam festival tersebut, si bocah berkacamata minus ini tampil sebagai penyaji kedua dengan menyajikan cerita Prawirayuda. Untuk bisa menjadi salah satu wakil DKI Jakarta dalam festival ini, Danan telah melalui seleksi khusus yang diselenggarakan PEPADI Daerah Jakarta pada tanggal 17 Oktober 2009.

Ketika ditanya lebih lanjut mengenai tantangan dia menggeluti dunia pedalangan ini, Danan dengan diplomatis menyampaikan semua bisa diatasi dengan ketekunan belajar. Dia sendiri mengaku tidak begitu kesulitan ketika harus menghafal naskah berbahasa Jawa, maupun memainkan sabetan wayang.

Penyuka panggung opera ini juga mengidolakan tokoh Semar. “Meski dia bertubuh tambun, dan penampilannya sederhana, sesungguhnya dia adalah seorang dewa”, Danan menjelaskan tentang tokoh idolanya tersebut.

Satu potongan cerita yang mengisahkan tiga bersaudara Semar, Togog dan Batara Guru yang beradu kesaktian untuk menelan sebuah gunung ternyata begitu kuat tertanam dalam ingatannya. “Togog tidak bisa menelannya, maka bibirnya menjadi melebar. Semar bisa menelannya, tetapi tidak bisa mengeluarkan, makanya sampai tua dia bertubuh gendut. Dari kisah ini, kita bisa belajar, bahwa kita tidak boleh bertengkar dengan saudara sendiri”, pungkasnya. (Grey)

Contact Pepadi

  • Persatuan Pedalangan Indonesia Pusat
    Gedung Pewayangan Kautaman
    Jl. raya pintu I TMII
    Jakarta Timur
    13810
    Telp: 021-87799559