Mengenal Bayu Praba Prasapa Aji tak bisa lepas dari peran sang ayah, Gandung Jatmiko. Ketertarikan Praba, demikian panggilan dalang bocah salah satu peserta dari kontingen Provinsi DI Yogyakarta pada dunia wayang, memang diwariskan dari malang-melintangnya sang ayah sebagai dalang. Namun, bukan berarti kemampuan bocah kelahiran 7 Mei 1998 ini berada di bawah bayang-bayang sang ayah. “Bagi saya, Praba memiliki kemampuan ingatan yang luar biasa. Dia bisa menghapalkan cerita hanya dalam satu jam. Itu pun sudah disambi (bersamaan) dengan aktivitasnya sebagai anak-anak pada umumnya,” tutur Gandung sang ayah saat ditemui usai penampilan Praba dalam Festival Dalang Bocah 2009, 18 Desember 2009.
Kelebihan inilah yang berhasil membuat Praba memainkan lakon Narayana Krida dengan teknik penokohan sekelas dalang dewasa. Bocah kelas VI SD Temanggal 2 Purwomartani Kalasan, Sleman, DI Yogyakarta ini mampu memainkan dialog dengan ciamik, lengkap dengan perpindahan antar tokoh yang membutuhkan imajinasi dan kekuatan ingatan. Tingkat kesulitan ini bukan sembarangan, mengingat penokohan dalam wayang bergantung pada kemampuan dalang untuk memainkan setiap tokoh dengan kekhasan karakter masing-masing. Tidak ada upaya khusus, Praba menjelaskan bagaimana rasa cintanya pada dunia wayang, “Aku suka wayang sejak kecil. Pentas pertama pas TK nol besar. Belajar dalang ya dari ayah, ndak dari sanggar mana-mana. Cita-cita sampai besar nanti ya pingin jadi dalang.”
Kecintaannya pada dunia wayang dan kemampuan ingatan yang kuatlah yang membuat Praba bersama sang ayahanda mampu mempersiapkan diri menjadi peserta Festival Dalang Bocah 2009 hanya dalam lima hari. Pengidola tokoh Gatotkaca ini menuturkan totalitasnya dalam lima hari persiapan tersebut. Selepas ujian sekolah, ia langsung menceburkan diri untuk mendalami teknik pedalangannya. Namun, ini bukan pertama kalinya Praba mengikuti kompetisi dalang bocah. Bahkan, awal tahun 2009, ia sukses meraih juara II dalam Festival Dalang Bocah se-DI Yogyakarta. Tempaan pengalaman menjadi modal besar Praba untuk terus mengasah kemampuannya dalam mencapai tingkat tertinggi.
Gandung, sang ayah, tak mau berkomentar banyak perihal dukungan Pepadi dan Pemda DIY atas prestasi dan kecintaan sang anak pada dunia wayang. Baginya, pementasan Praba pada tingkat nasional adalah rahmat yang harus disyukuri. Gandung telah menyiapkan segala sesuatu yang terbaik bagi Praba, apakah itu musik, lakon, pelatihan dan juga pendalaman dialog. Ia hanya menyayangkan informasi pra-persiapan yang terbilang minim, yang membuat sang ayah tak bisa mengukur suasana performa panggung maupun kekuatan peserta lainnya. Bagi Gandung, hal ini penting untuk dapat memberikan arahan kepada sang anak agar sang anak mampu mengreasikan dirinya secara maksimal. “Dorongan dan sokongan bagi pengembangan dalang bocah itu penting, dalam bentuk apapun. Baik dorongan dari orang tua, maupun sokongan dari lembaga-lembaga terkait. Kalau anaknya punya keinginan yang kuat, tapi kita ndak bisa memberikan sokongan yang positif, ya kasihan anaknya juga,” tutup sang ayah. (Peter)