“Lakonnya aku yang pilih, aku suka lakon perang,” jawab Canggih Tri Atmojo Krisno, peserta dari kontingen Provinsi Jawa Tengah saat ditanya siapa yang memilih lakon Babad Wanamarta yang dipentaskannya di Festival Dalang Bocah 2009. Canggih tanpa canggung menuturkan lakon yang baru dibawakannya dengan cara kanak-kanak bercerita. Bagaimana tokoh Brotoseno yang bertekad kuat dan perkasa menjadi faktor utama atas pilihan dari bocah kelahiran Surakarta, 22 Juni 2000. “Aku pingin jadi Brontoseno,” sahut Canggih lugas.
Darah seni dan penguasaan lakon Canggih bukan lahir begitu saja. Putra bungsu dari tiga bersaudara ini lahir dari keluarga berlatar belakang seniman. Sang ayah, Harijadi Tri Putranto, adalah dosen Institut Seni Indonesia Surakarta jurusan pedalangan. Sembari tersenyum, Harijadi mencoba menambahkan perihal pilihan lakon dari pementasan putranya. Lakon ini pernah dimainkan Canggih bersama Ki Purba Asmara di Surabaya dengan durasi dua jam, dan Canggih memang mengidolakan dalang Ki Purba. Namun, untuk pementasan pada Festival Dalang Bocah yang mempersyaratkan durasi satu jam ini, sang ayah berusaha menggarap lakon dan musik dasar yang bisa memberikan ruang kreasi kepada sang anak. “Untuk festival ini, saya selalu berusaha mengingatkan dia (Canggih-red) bahwa ini bukan pentas tarub yang bisa banyak mengeluarkan gurauan. Bisa fokus pada waktu, pada alur yang sudah dilatih, tapi tetap ingat bahwa kemenangan bukan segala-galanya,” jelas Harijadi.
Bagi sang ayah, Canggih memiliki kelebihan tersendiri. Bocah kelas IV SD Jagalan 81 Surakarta itu memiliki keseimbangan dalam penguasaan aspek pedalangan. Harijadi memahami bahwa psikologis anak selalu menginginkan sesuatu yang bergerak dan dinamis. Bukan hal baru jika pada tahapan anak-anak, sabet menjadi pusat perhatian mereka. Namun, sang ayah melihat kekuatan keseimbangan yang dimiliki putranya ketika mementaskan sebuah lakon, baik itu bahasa, sabet, dan iringan. Memahami laras, demikian Harijadi menggarisbawahi kelebihan sang putra.
Canggih memang dikelilingi alam yang mendukung pilihannya sebagai dalang bocah. Mudjiono, pemimpin Sanggar Sarutama tempat Canggih dititipkan sang ayah untuk berlatih memang menerapkan proses pemahaman dasar bagi anak-anak yang berlatih di padepokannya. Mempelajari hal-hal akademik seperti teknik pedalangan memang menjadi dasar kebutuhan berkumpulnya anak-anak tersebut, tapi bukan berarti teknik adalah kunci dasar untuk memahami dunia wayang. Menterjemahkan nilai-nilai wayang dalam kehidupan yang dipahami anak-anak justru lebih penting untuk dapat menumbuh-kembangkan bakat dari masing-masing pribadi anak. Para orang tua harus mau memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan anak, agar nilai adiluhung yang teremban dalam nilai wayang bisa dipahami dan dijunjung sang anak semenjak dini. “Buat saya caranya sederhana saja, tempatkan anak-anak sederajad dengan teman sepermainan. Makan nasi bungkus bersama-sama, bermain bersama-sama, tanpa pandang bulu. Cara ini akan memudahkan mereka untuk memahami makna yang ingin disampaikan dalam dunia wayang. Tentunya, bukan sekedar makna yang dipahami orang tua, tapi makna moral yang terkandung dalam dunia wayang,” tutur Mudjiono yang membuat kita tak heran darimana Canggih berani memilih lakon yang dimainkannya. (Peter)