Pementasan Bimo Sinung Widagdo, peserta kontingen Provinsi DKI Jakarta pada Festival Dalang Bocah 2009 terbilang cukup sukses. Putra kelahiran Jakarta, 16 Mei 1995 yang menampilkan lakon Anjaningrat-Anjaningrum berhasil meraih posisi enam penyaji terbaik pada ajang festival ini. Lomba dan festival memang bukan hal baru dalam pergelutan Bimo di dunia pedalangan. Ia bahkan meraih sejumlah penghargaan tingkat nasional, seperti Festival Dalang Cilik yang diselenggarakan di Taman Budaya Surakarta tahun 2007. Bimo saat itu meraih penghargaan untuk kategori Sabet terbaik. “Senang. Tapi aku masih harus belajar banyak, biar bisa kayak Ki Manteb pintar dan berani bikin hal baru dari tradisi yang sudah dikenal dari zaman dulu”, Bimo menjelaskan perasaannya usai menerima penghargaan pada acara penutupan Festival Dalang Bocah 2009.
Perjalanannya dalam dunia dalang terbilang unik. Ia memang secara sadar memilih sendiri dunia pedalangan. Namun, Bimo menuturkan seputar kisah yang dilantunkan kedua orangtuanya perihal kelahiran dirinya. Dikisahkan, bahwa saat sang ibunda mengandung Bimo, ayahandanya sangat kegandrungan pementasan wayang, dimana dan kapan saja. Maka, kedua orangtua Bimo tak begitu kaget saat putra mereka secara alamiah memilih untuk mendalami dunia dalang.
Sang ayah, Slamet Yudo Prasetyo, justru mengiyakan kisah yang dituturkan Bimo tersebut. Slamet bahkan menambahkan, tangisan Bimo bayi bisa ditenangkan saat disodorkan wayang. Bakat Bimo di bidang pedalangan ini kemudian dipertajam saat ia rutin berlatih sejak umur 7 tahun. Dari bakat yang ditunjukkan inilah, Bimo berhasil meraih beasiswa saat memasuki SMP Cakra Buana Sawangan, Depok, dimana ia sekarang sudah duduk di kelas III. “Cakra Buana memang menyediakan beasiswa untuk prestasi di beberapa kategori. Saya mencoba mengajukan beasiswa untuk Bimo saat masuk SMP, dan pihak sekolah menganggap Bimo memiliki prestasi menonjol di bidang pedalangan”, Slamet menuturkan perihal beasiswa tersebut. Rencananya, sang ayah akan mengajukan kembali beasiswa untuk jenjang pendidikan SMU bagi Bimo di tempat yang sama.
Apresiasi atas dalang memang menjadi kebutuhan bagi pengembangan dan pengelolaan tradisi ke masa depan. Prestasi yang diraih Bimo, yang kemudian bak gayung bersambut mendapatkan beasiswa merupakan sebuah cermin kemajuan lembaga pendidikan dalam rangka memberikan payung apresiasi tersebut. Slamet mengakui, kebutuhan pendidikan formal nyata menjadi kebutuhan dasar setiap anak, tak terkecuali sang putra yang memilih jalur dalang sebagai pengisi kegiatan semasa kanak-kanak Bimo. Pegawai negeri PT PLN (Persero) Tbk ini hanya berusaha memberikan jalur dan arahan yang terbaik bagi sang putra tanpa mengarahkan sang anak sesuai keinginannya pribadi. Terkait persoalan pilihan, Bimo punya pandangan cita-cita yang akan ditempuh ke depan. “Aku pingin sukses di dunia perkantoran, supaya bisa menjadikan dunia dalang sebagai sampingan di waktuku yang bebas. Supaya bisa sampai ke sana, aku dibantu bapak dan ibu ya harus pintar-pintar bagi waktu. Kapan sekolah, kapan latihan, main bola, kapan istirahat,” tandas Bimo sembari melamun sejenak.
Margono, pemilik Sanggar Seni Saiko Budoyo di bilangan Cakung, Jakarta Timur tempat Bimo melatih kemampuan dalangnya menuturkan, Bimo merupakan salah satu anak yang memiliki tekad besar untuk maju. Kekuatan inilah yang kemudian membawa Bimo mengalami kemajuan yang pesat. Margono percaya, pendidikan dalang bocah bisa menciptakan banyak efek positif dalam perikehidupan masyarakat Indonesia. Selain efek membentuk moralitas masyarakat yang tertuang dalam warisan tradisi, ujar Margono, “Kita juga membentuk kepribadian yang kuat sejak dari kecil. Dan ini bisa menciptakan efek yang besar terhadap tumbuh kembangnya kepribadian bangsa”. (Peter)