December 19th, 2009

Putra Laksana Tanjung: Memeluk Erat Pakem Pakeliran

Suaranya terdengar anggun, sebagai penyaji pertama di hari kedua Festival Dalang Bocah 2009. Putra Laksana Tanjung memberi awal yang hangat pagi itu. Menggelar pementasan wayang dengan gagrag Yogyakarta, Putra berbagi cerita tentang Si Jabang Radya, yang mengisahkan perjalanan hidup Adipati Karna yang mengharukan.

Mari kita kesampingkan sejenak garapan sabet yang atraktif, yang diwarnai kelihaian mejungkirbalikkan gunungan dan tubuh wayang-wayang.

Bocah yang lahir di Jakarta, tapi besar dan tumbuh di Wonosari, Gunung Kidul ini menyuguhkan tontonan wayang yang seolah ingin sedikit menyisih dari bingar penampilan kebanyakan peserta lain. Narasi yang runtut, melalui pocapan dan janturan yang sarat makna, siswa SD Parangtritis II ini tampil dengan dengan aliran yang tenang. “Saya suka kalau lihat wayangannya Mbah Timbul”, tutur bocah kelas 6 ini. Bapaknya, yang mendampinginya dalam keikutsertaannya dalam festival ini, menjelaskan bahwa dalam mendalang Putra sangat kuat memegang pakem. Salah satu kakaknya, yang mengelola sebuah grup dangdut, sering ditolaknya ketika menawarkan untuk menjadi bintang tamu dalam pementasannya. Putra menampik tampilnya bintang tamu dalam setiap pementasannya, atau menyajikan campursari maupun musik, serta menghindari adegan limbukan.

Keinginan yang kuat untuk menjadi seorang dalang rupanya telah mendorong Putra mampu melalui pelbagai keterbatasan yang dihadapinya. Semisal dalam persiapannya menuju festival dalang bocah kali ini, Putra hanya berlatih dengan kendhang, bukan dengan gamelan yang lengkap. Untuk kebutuhan berlatih, bapaknya yang bekerja sebagai pengelola sebuah losmen di area pariwisata Parangtritis, membelikannya wayang dengan mencicilnya satu per satu. “Jika harus membeli sekotak wayang lengkap, kami belum mampu. Kami membeli sedikit demi sedikit wayang dengan harga murah, untuk jaga-jaga kalau hilang atau rusak, kami tidak merasa terlalu getun”, sambil tertawa Putra dan Bapaknya menjelaskan. Bocah kalem ini ingin selalu mampu bersikap sabar. Tokoh Yudhistira dalam dunia pewayangan cukup banyak memberinya inspirasi dalam bersikap. “Selain seorang tokoh yang sabar, Yudhistira juga selalu menghindari pertikaian”, ungkap Putra sambil tersenyum simpul.

Sedikit lebih jauh tentang persiapannya tampil pada festival dalang bocah kali ini, Putra mengungkapkan kesulitannya membagi waktu dengan ujian sekolah yang harus ditempuhnya seminggu sebelumnya. Ditambah, dia jatuh sakit sejak ujian dimulai. Hanya dalam waktu tiga hari Putra benar-benar memusatkan latihan untuk penampilannya kali ini. Dalam kesempatan sesingkat itu, dipelajarinya naskah sepanjang 20 halaman dan berlatih dengan penabuh kendhang yang juga mendampinginya ke Jakarta. ”Kesempatan ini bukan semata-mata untuk berlomba. Tetapi, agar Putra memperoleh lebih banyak wawasan tentang dunia pedalangan dan agar dia punya lebih banyak pengalaman”, tandas Bapaknya. (Grey)

Contact Pepadi

  • Persatuan Pedalangan Indonesia Pusat
    Gedung Pewayangan Kautaman
    Jl. raya pintu I TMII
    Jakarta Timur
    13810
    Telp: 021-87799559