December 22nd, 2009

Sindhunata Gesit Widiharto: Wayang Sebagai Jalan Pilihan


Bagi Sindhunata Gesit Widiharto, menjadi dalang merupakan pilihan yang sadar dilakukannya sendiri. Peserta dari kontingen Provinsi Jawa Tengah pada Festival Dalang Bocah 2009 ini mengisahkan, latar belakang keluarga tidak banyak mengarahkan pilihannya mendalami jagad pakeliran. Memang, sang ayah, Maston Lingkar bukan orang asing dalam dunia pertunjukan, khususnya teater. Namun Maston membebaskan seluruh keputusan hidup kepada Sindhu sang putra. Bapak selalu menggelar rekaman wayangan Jumat Kliwon di Taman Budaya Raden Saleh Semarang. Waktu masih kecil, saya sering melihat rekamannya. Dari situ saya mulai tertarik dengan dalang, tutur Sindhu dengan intonasi yang dewasa.

Murid kelas VIII SMP Al-Azhar 14 Semarang ini menceritakan kisah kecilnya saat mulai mengenal dunia pedalangan. Sejak berumur 2,5 tahun, peralatan makan hingga gantungan baju digunakan Sindhu untuk melampiaskan imajinasi pakelirannya. Sang ayah pun mengerti keinginan anaknya, kemudian membelikan wayang kertas sebagai awal mula. Setelah Sindhu mulai mengerti bagaimana memainkan wayang, Maston akhirnya membelikan seperangkat peralatan wayang yang layak untuk dimainkan di beber. Ketika Sindhu beranjak memasuki SD kelas IV, sang ayah memberikan pelatihan khusus lewat guru privat yang dipanggil ke rumah. Ketua Teater Lingkar ini mendukung sepenuhnya keinginan sang anak untuk dapat mengembangkan bakatnya.

 

Agung Budi Santoso, dalang muda asal Sragen yang melatih teknik pedalangan Sindhu menuturkan, bocah kelahiran Semarang 10 Januari 1996 ini memiliki kelebihan pada daya tangkap dan ketenangan yang tidak banyak dimiliki anak pada seumurannya. Agung kerap memberikan beberapa contoh gerakan yang langsung bisa diaplikasikan. Dipadukan ketenangan psikologis, Agung merasa bakat dalang mengalir deras dalam darah Sindhu. Dalang muda yang masih memiliki trah dalang klasik Ki Gondo Darman ini optimis, Sindhu akan mampu mengembangkan bakatnya hingga batas maksimal. Yang terpenting adalah mengenal karakter. Sejak kecil, Sindhu sudah memiliki karakter gagraknya. Saya tinggal mengarahkan sesuai karakter dia. Memang masih ada banyak kekurangan teknis, tapi hal itu bisa dipelajari dengan bakat Sindhu yang pendiam dan mudah menangkap banyak hal, jelas Agung.

 

Perihal persiapan menghadapi Festival Dalang Bocah 2009 tingkat nasional, Maston sang ayah khusus mempersiapkan iringan dari Setyaji, seniman asal Taman Budaya Surakarta. Waktu yang terbilang mepet membuat proses latihan menjadi sangat efisien. Sindhu hanya bisa berlatih dua kali di bawah iringan Aji. Namun, hal itu tak membuat persiapan lakon Aji Norontoko yang dibawakan Sindhu kehilangan ruhnya. Maston percaya, ketenangan dan daya tangkap Sindhu yang luar biasa akan mampu membuat proses persiapan dengan waktu yang minim bukan lagi kendala. Di samping itu, pendiri Sanggar Sindhu Laras ini nyata-nyata menekankan bahwa esensi festival bukan pada kemenangan, namun pada proses pendewasaan di atas panggung.

 

Aji, sang penggarap musik sepakat dengan misi yang dibawa sang ayah. Kelebihan Sindhu dalam ketenangan dan daya tangkap akan membuat Sindhu menarik pelajaran berharga atas penampilannya pada festival ini. Apapun hasilnya, pesan moral dalam lakon wayang justru menjadi kunci bagi anak-anak untuk memahami dasar dunia wayang. Kita bukan sekedar mendidik dalang pertunjukan. Kita mempersiapkan bakat-bakat yang akan menjawab permasalahan hidup lewat perumpamaan. Dan itu membutuhkan karakter yang kuat, Aji menjawab lugas. (Peter)

Contact Pepadi

  • Persatuan Pedalangan Indonesia Pusat
    Gedung Pewayangan Kautaman
    Jl. raya pintu I TMII
    Jakarta Timur
    13810
    Telp: 021-87799559