December 26th, 2009

Magistra Yoga Utama: Bermain Mendalang

Saya berkesempatan berjumpa dan berbincang dengan Magistra Yoga Pratama di tempat tinggalnya di Jalan Lawu 14 Perumahan Suburmakmur, Palur, Karanganyar. Kurang lebih empat jam saya lewatkan untuk menyambangi dunia keseharian Yoga, sebagai seorang bocah yang kebetulan juga seorang dalang.

Pagi itu, kurang lebih pukul sembilan, saya sampai di depan sebuah rumah yang tenang, di sebuah komplek perumahan yang jauh dari keramaian lalu lintas kota Surakarta. Seorang ibu dengan ramah mempersilakan saya masuk. Ibu ini yang kemudian saya panggil Bu Waridi, istri dari mantan Rektor ISI Surakarta, Alm. Prof. Dr. Waridi S.Kar M.Hum, ibu dari pemenang Festival Dalang Bocah 2009, Magistra Yoga Utama. Sambil menunggu saya sejenak terkesan dengan lukisan karikatur yang unik di dinding luar. Seorang dalang dengan wajah garang sedang memainkan Petruk dan Bagong, sementara di belakangnya wajah-wajah penonton tampak tegang menonton. Bu Waridi memanggil Yoga. Dalam beberapa menit, bocah berkaos oblong dan bercelana sedengkul turun dari tangga di sebelah garasi. Dengan senyum gigi gingsulnya, bocah ini menengok ke atas tangga, mengajak seseorang untuk ikut turun. Oh, ternyata dia baru saja bermain Play Station dengan Canggih (Canggih Tri Atmaja Krisna, salah satu peserta festival – red). Dua dalang bocah ini adalah bersahabat dekat serta teman bermain keseharian. Pagi itu saya ikut ‘bermain’ bersama mereka.

Ibunya berkali mengingatkan Yoga untuk pergi mandi dulu, tapi Yoga dan Canggih hanya tertawa, “Nggak usah. Nanti saja, Ma”, ujarnya sambil menghampiri saya. Kami pun duduk bertiga di teras.

“Awalnya dulu pas masih TK sempat nonton Pak Manteb mentas di STSI. Terus lama-lama suka, dan setiap lewat taman Sriwedari minta dibelikan wayang kardus”, Yogya mengawali cerita tentang keterlibatannya dalam dunia pedalangan. Sekali lagi, Pak Manteb membuka inspirasi. Dari ketertarikan awal ini, kemudian Yoga merayu Bapaknya agar diberi kesempatan belajar di sanggar. Ide ini muncul setelah dia mendengar ada sanggar untuk anak-anak belajar mendalang seperti sanggar Nirmalasari di Jakarta. Orangtuanya sempat kebingungan, sebab mereka tidak tahu tempat sanggar yang melatih dalang anak-anak di Surakarta. Mereka tahu di Surakarta banyak sanggar didirikan, tetapi itu bukan sanggar pedalangan bocah. Pencarian itu terdampar di Sanggar Sarotama, yang dikelola oleh Pak Mudjiono. Semenjak itulah, menjelang kenaikannya ke kelas 3 di SD Muhammadiyah 1 Palur, Yoga resmi menjadi salah satu cantrik di Sanggar Sarotama. Keinginan besar untuk bisa mendalang ini jugalah yang menggoda sahabatnya, Canggih, untuk turut berlatih mendalang.

Kurang lebih 4 bulan menjadi warga di Sanggar Sarotama, Yoga sudah diijinkan mentas sendiri oleh gurunya. Kesempatan itu datang ketika dia diminta ikut meramaikan acara Pameran Wayang Rai Wong milik Ki Enthus Susmono.”Waktu itu lakonnya Guwarsa-Guwarsi. Tapi, waktu itu Pak Enthus katanya mau ngasih satu wayang rai wong, tapi sampai sekarang ngga jadi. Huh..’ ungkap Yoga, sambil tertawa dan mulai menggolekkan badannya ke lantai. Di samping lakon Prabu Singa Barong yang membuahkan kemenangan bagi Yoga dalam Festival Dalang Bocah 2009, beberapa lakon yang pernah dipentaskannya adalah Kangsa Lena, Wiratha Parwa, Dewaruci (ketika mucuki – mengawali  pementasan Pak Bambang Suwarno), dan Gatotkaca Jedi.

“Yoga punya wayang baru. Baru beli kemarin. Gatotkaca”, tiba-tiba Canggih berujar. Mereka pun setuju untuk mengambilnya. Beberapa menit mereka berlalu dan kembali dengan Gatotkaca di tangan Yoga dan Antasena di tangan Canggih. Sejak inilah, perbincangan kami jadi demikian seru dan ditingkahi dialog-dialog dari pakeliran.

Gatotkaca adalah tokoh yang paling dikagumi Yoga. “Gatotkaca itu sakti sedari kecil. Sewaktu masih bayi, masih jabang Tetuka, dia sudah mampu membunuh Kalapracana yang mengobrak-abrik kayangan..” di sini saya harus diam dan kagum. Yoga dan Canggih memainkan fragmen adegan ketika bayi Tetuka sempat dibunuh dan diklethak kepalanya oleh Kalapracana, tapi kemudian ditolong para dewa dengan mencemplungkannya ke Kawah Candradimuka.”Awalnya diberi gaman-gaman milik para dewa, tapi bayi Gatotkaca tidak juga hidup lagi, maka diberi nyawanya Gandamana, lalu kepalanya diberi topengwaja. Wah, langsung hidup lagi dan jadi sakti sekali. Langsung menyusul Kalapracana dan Gatotkaca berhasil membunuhnya” Yoga dan Canggih pun menjelma jadi pencerita cilik yang lihai saat itu juga, sambil sesekali dia menirukan suara kendang dan kepyak mengiringi adegan perang Gatotkaca dan Kalapracana. Adegan dari cerita Gatotkaca Jedi inilah yang nanti tanggal 2 Januari 2010 akan dipentaskan Yoga untuk sekolahnya. Minggu-minggu ini, usai ikut festival, Yoga dan Pak Mudji sedang sibuk menggarap persiapan pementasan itu.

Perbincangan ini terhenti sejenak. Canggih yang tinggal masih di komplek yang sama dipanggil ibunya, diminta mandi dulu. Dengan patuh kemudian Canggih menghampiri sepedanya, dan berpamitan.

Yoga masih belum mau untuk pergi mandi. Masih saja dia memainkan tokoh anak Bima itu. Seperti tak puas memainkannya hanya di udara, Yoga bangkit dan mencari dinding ruang tamu sebagai kelir. Untuk beberapa menit saya menikmati pementasan kecil itu. Bu Waridi kemudian keluar membawa secangkir teh dan kue-kue kecil. Beliau ikut duduk menemani kami. Rumah itu seperti hanya diramaikan suara dalang bocah ini dengan suara kendhang yang juga keluar dari mulut polosnya.

Ketika dia memberi jeda sejenak dari permainan wayangnya, Yoga menyampaikan bahwa di antara seluruh pementasan pada Festival Dalang Bocah 2009, dia sangat menyukai pementasan peserta dari Semarang, Sindhunata Gesit Widiharto. Menurutnya, Sindhunata seharusnya masuk dalam enam besar.

Menjawab pertanyaan saya tentang lakon yang sangat ditunggunya untuk bisa ditampilkannya, Yoga menjawab,”Gatotkaca Krida” masih dengan cengiran manisnya. Kali ini dengan malu-malu. Alasannya, “Pada cerita ini, semua anak Werkudara keluar. Gatotkaca, Antasena dan Antareja. Tapi cerita ini belum bisa untuk saya. Itu lakon miliknya orang dewasa. Wayangnya banyak, dan ceritanya panjang. Seperti Abimanyu Ranjab. Itu tidak boleh dimainkan anak-anak. Sebelum memainkan lakon itu, dalangnya harus diruwat dulu,” tutur dalang bocah ini. Tapi, tak lebih dari semenit dia selesai menjelaskan, dia telah mulai memainkan tokoh di tangannya, menyampaikan dialog-dialog dalam cerita Gatotkaca Krida. Meski di beberapa bagian adegan dia tidak memiliki tokohnya – misal ketika berkisah tentang Sengkuni dan Durmagati – Yoga tidak lantas berhenti bercerita. Dialognya tetap lancar saja keluar dari mulutnya, dan tentu saja masih dengan suara kendhang yang ditirunya.”Itu beberapa bagian dari pementasannya Ki Bayuaji. Ada CDnya,” ujarnya.

Ki Bayuaji adalah dalang andalannya. Yoga tak menampik hebatnya sabet milik Pak Purba Asmara yang bagi Yoga pukulannya terasa kerasnya, atau perangnya Pak Manteb yang dia bilang gadanya muncul listriknya, maupun keindahan gerak tokoh dari Ki Anom Suroto. Namun, untuk seluruh kemasan pementasan, Ki Bayuaji paling mengesankan baginya, baik dari sabet, catur, maupun cerita.”Canggih itu Anom Suroto, kalau aku Pak Manteb”, ujarnya sambil terbahak. Canggih yang berbadan sedikit lebih subur itu dia ibaratkan Anom Suroto, dan tubuhnya sendiri yang kecil dan agak kurus itu sebagai Ki Manteb. Banyolan ini sontak membuat saya dan Bu Waridi ikut terbahak.

Sekilas menyinggung tentang kemampuannya dalam memainkan gamelan, Yoga langsung mengaku cukup lancar memainkan instrumen musik tradisional Jawa itu.”Paling suka dan paling mudah itu memainkan kendhang”, katanya sambil menyandarkan punggung di dinding yang semula dijadikannya kelir. ”Pak Panggah (Rahayu Supanggah, seorang tokoh karawitan - red) pernah memberi sebuah kendhang”, tuturnya malu-malu, sembari tangannya membetulkan tangan Gatotkaca di genggamannya. ”Paling sulit tuh main siter, rebab dan gender”, sambungnya.

Setelah sekitar kurang lebih dua jam kami berbincang dan bermain, Yoga beranjak. Dia menghampiri televisi. Saya hanya bersama Bu Waridi. Lamat-lamat tertangkap di telinga saya, Yoga berkali mengganti channel. Sejenak kemudian Yoga meninggalkan televisi itu tetap menyala. Dia menarik sepedanya keluar, bersiap pergi.”Ma, ke rumah Canggih”, teriaknya berpamitan. Saya pun  kemudian berbincang dengan Bu Waridi.

Dari pengakuan sang ibu, selain mendalang, Yoga juga cukup dikenal sebagai pemain panggung yang handal. Dalam perannya sebagai Gareng, Yoga pernah memenangi sebuah festival wayang orang sebagai pemeran pria terbaik. Bukan itu saja, Yoga juga sempat terpilih sebagai pemeran pria terbaik dalam sebuah festival kethoprak anak dan remaja se-wilayah Surakarta.

Bu Waridi kadang sengaja merahasiakan informasi tentang pementasan wayang, jika itu diselenggarakan bukan pada masa liburan sekolah. Akan sulit melarang Yoga menontonnya, jika dia sampai tahu. Yoga akan mengikuti pertunjukan wayang sampai semalam natas, padahal keesokan harinya dia harus masuk sekolah. Bahkan Bu Waridi sempat keberatan ketika Yoga dipilih untuk ikut dalam Festival Dalang Bocah tahun ini. “Waktunya sangat terbatas, dan persiapannya bersamaan dengan masa ujian sekolah. Yoga sudah kelas 6. Dia perlu sedikit lebih fokus ke sekolah”, kata Bu Waridi.

Bu Waridi juga menjelaskan, bahwa sebetulnya Yoga sempat enggan untuk mementaskan wayang kancil. Itu belum begitu dikenal oleh anak-anak, dan tidak ada adegan perang yang gegap gempita seperti di wayang purwa. Untuk mementaskan wayang kancil pada Festival Dalang Bocah 2009, Yoga hanya memiliki waktu dua minggu. Waktu ini tergolong singkat, mengingat semua komponen pementasan yang masih baru, mulai dari lelagon/tembang yang baru untuk menyesuaikan cerita, beberapa tokoh yang juga dibuat baru, hingga keseluruhan cerita.

Perbincangan saya dengan Bu Waridi terhenti sejenak. Yoga pulang dari rumah Canggih. ”Ma, aku disuruh pulang. Diminta mandi dulu”, ucapnya senyum-senyum, sambil menuntun sepeda. ”Tapi aku mau beli burger dulu”, rengeknya pada ibunya. Setelah ibunya setuju, Yoga memanggil tukang jual burger yang lewat di samping rumah. Dipesannya dua burger. Salah satu untuk saya. “Ma, aku mau dagingnya dua, ya!” teriaknya pada ibunya.”Biar bisa gemuk. Kayak Pak Anom Suroto”, ucapnya sambil melirik saya.

Tak lama kemudian, Yoga mendekati saya, mengulurkan burger yang terbungkus kertas di tangan kanannya. Dia sendiri melangkah mengambil Gatotkaca yang sempat tergolek di kursi ruang tamu. Sembari tangan kanan memegang burger yang mulai dilahapnya, tangan kirinya memegang Gatotkaca. Di depan televisi yang memutar sinetron, dia tetap memainkan wayangnya, dan sesekali memperhatikan layar televisi. Di luar kegemarannya pada dunia pewayangan, Yoga tetap menyukai Play Station, tayangan film kartun Naruto, ataupun Ipin dan Upin. Sewaktu bermain perang-perangan dengan Play Station melawan Canggih, dia menyeletuk,” Ini perang gagal. Tak ada yang kalah dan menang”.

Ketika televisi telah selesai dengan sinetronnya, Canggih datang. Tampak telah selesai mandi. Dia menyusul Yoga, memainkan Antasena. Pada saat yang sama, sebuah siaran televisi mengabarkan tertangkapnya mertua Noordin M. Top. Dua bocah itu tampak serius memperhatikan berita. “Noordin Muhammad Top”. Canggih bergumam, “Emang namanya Noordin Muhammad Top, gitu?”, Yoga menimpali gumaman sahabatnya.”Iyaaa… emangnya Noordin Memang Top” jawab Canggih. Ah, mereka juga mengikuti perkembangan berita terkini.

Begitu berita ditutup, mereka sibuk bermain wayang lagi. Lalu, sekonyong-konyong Canggih seperti ingat sesuatu. “Bagaimana? Jadi nyari debog? Di Simbahku ada. Sepuluh ribu mau, ngga?” ujarnya kepada Yoga. Sebentar kemudian dua bocah itu terlibat tawar-menawar harga gedebog pisang. Yoga ingin memasangnya di kelir yang biasa dia pakai bermain.

Satu jam berikutnya, saya lebih banyak menikmati Yoga bermain dengan wayang-wayangnya. Ini pengalaman yang luar biasa. Beberapa jam bergabung dalam kegiatan bermainnya, sepertinya berlalu begitu saja, tanpa terasa. Saya kira, sejatinya, yang dilakukannya bukan berlatih mendalang, melainkan bermain mendalang. Sebab, ternyata, dalam hidup keseharian Yoga, mendalang sudah menjadi permainan kesukaannya. Mungkin bisa dikatakan, ‘persaingan’ antara tradisi dan gempuran budaya modern itu sesungguhnya telah mampu dilewatinya. Ketika mendalang telah terkemas dalam tampilan sebuah ‘permainan bocah’, rasanya tidak perlu lagi muncul kekhawatiran bahwa wayang dan mendalang akan ditinggalkan para kanak-kanak kita. Mungkin ini bisa menjadi sebuah renungan untuk bisa menghadirkan dunia wayang dan dunia pedalangan sebagai dunia bermain bocah, yang menyenangkan dan bersifat membebaskan. (Grey)

Contact Pepadi

  • Persatuan Pedalangan Indonesia Pusat
    Gedung Pewayangan Kautaman
    Jl. raya pintu I TMII
    Jakarta Timur
    13810
    Telp: 021-87799559