Ketika berbicara tentang seorang dalang, hampir bisa dipastikan, khalayak akan memahaminya sebagai sebuah dunia milik para lelaki. Kehadiran perempuan, seringnya, hanya akan menempati wilayah tari, karawitan, atau waranggana. Sekat samar ini, siapapun mungkin tak mampu memungkiri. Namun, tunggu dulu.
Dari sebuah sudut di kota Balikpapan, Kalimantan Timur, seorang gadis kecil menampik anggapan itu. Moni Dwirahayu menunjukkan keinginan besarnya membengkah sekat ini. Dengan seluruh keterbatasannya, Moni tak surut mengejar keinginannya menjadi dalang.
Dapat dikatakan, awalnya pedalangan adalah dunia yang asing bagi Moni. Meski Bapaknya, Sigid Nugraha, berprofesi dalang, dia juga sempat berpandangan bahwa dalang bukanlah keahlian untuk seorang perempuan. Namun, pada sebuah sore, tanpa sengaja Bapaknya melihat Moni tengah bermain wayang, dengan melakukan sabet yang ditirunya dari cakram padat berisi pementasan Ki Enthus Susmono. Bapaknya mengaku sempat terkesima. Baru disadarinya sore itu bahwa bagi Moni lakon Sugriwa-Subali yang dipentaskan Ki Enthus tidak lagi hanya sebatas pementasan wayang seperti pementasan lain. Rupanya, tumpukan cakram padat dari pementasan Ki Enthus Susmono dan Ki Manteb Sudarsono justru telah memicu ketertarikan Moni.
Perjalanan itu tidaklah sederhana. Moni bukan seorang penutur bahasa Jawa. Sebuah kenyataan yang besar kemungkinannya akan menyurutkan langkah Moni maupun Bapaknya untuk mendukung minat putrinya. Namun, keterbatasan ini tidak lantas menjadi racun yang memupus keinginan besar siswa SDK Yos Sudarso Balikpapan ini. Tanpa sengaja, janturan dan pocapan dalam pementasan Ki Enthus tercecap dalam ingatan si gadis tomboy ini, bahkan ketika dia belum mampu menulis. Dalam pementasannya pada Festival Dalang Bocah 2009, Moni menyentil ‘rasa tidak terimanya’ tentang dunia pedalangan yang disandera para penutur bahasa Jawa. Tokoh Bagongnya mengeluh dalam pementasan,”Dasar nasib Bagong kelahiran Balikpapan, yang tidak bisa berbahasa Jawa. Tapi sekarang harus mentas pakai bahasa Jawa. Nasib.. nasib..”. Keluhan ini sontak mengundang tawa penonton, selain karena pelafalan kata-kata dalam bahasa Jawa yang mungkin terdengar tidak biasa bagi pendengaran para penutur bahasa Jawa.
Cukup disyukuri bahwa ada kelompok karawitan di lingkungan tempat tinggal Moni, yang menyodorinya jembatan untuk selangkah demi selangkah mulai mempelajari kesenian Jawa, disamping kesenian Banjar yang kental ditemuinya dalam lingkungan tumbuh kembangnya. Desember ini, Moni tengah giat melatih diri menari Jawa. Moni akan menari dalam peringatan Natal tahun ini.
Satu hal menarik sempat disampaikan Sigid berkaitan dengan persiapan puterinya mengikuti Festival Dalang Bocah 2009. Untuk menyiasati keterbatasan Moni dalam membaca tulisan berbahasa Jawa, bapaknya membacakan dan merekam dialog dan narasi yang sisiapkan untuk Moni. Moni menghafalnya dengan mendengarnya, dan bukan dengan membaca. Maka, hingga pementasannya dilangsungkan, Moni tak memegang selembar naskah pun.
Lebih jauh, Sigid menyampaikan bahwa untuk tampil pada acara festival ini lebih sebagai usaha memberikan keluasan wawasan bagi gadis kecilnya. Melihat bagaimana cerita diolah dan disajikan oleh para peserta lain secara berbeda telah membuka sisi besar yang belum pernah dibayangkan Moni sebelumnya tentang mendalang: bahwa dalam dunia pedalangan, perbedaan sudut pandang itu tidaklah ditabukan. (Grey)